Perjalanan dari Yogjakarta dengan mgambil arah ke barat melalui jalan Godean hingga tiba di perempatan setelah kali Progo. Dari perempatan ini (Nanggulan) ambil ke arah utara kira-kira 6 km hingga sampai di perempatan Dekso. Di perempatan ini ambil ke kiri (ke arah barat) ikuti jalan tersebut kira-kira 15 km hingga tiba di terminal kecil atau pasar Plono. Dari terminal ini ambil belokan ke kanan ke arah desa Nglinggo. Ikuti jalan tersebut sekitar 3 km hingga dijumpai papan peta wisata Nglinggo. Selanjutnya akan dijumapi pertigaan lalu belok kiri masuk jalan kampung berbatu hingga tiba di depan papan Grojogan Watu Jonggol. Dari sini turun ke jalan setapak yang cukup curuam dan licin kira-kira sejauh 100 m hingga tiba di lokasi grojogan berada.
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 Mei 2012
Grojogan Watu Jonggol Kulon Progo
Grojogan Watu Jonggol berada di ketinggian 900 m dpl
yang terletak di pegunungan Menoreh di dalam kawasan Desa Wisata
Nglinggo. Grojogan ini memilki ketinggian sekitar 60 m. Selain
Grojogan Watu Jonggol di kawasan ini juga terdapat dua air terjun lagi
yaitu Kedung Cumpleng dan yang satunya biasa disebut Curug Nglinggo.
Untuk menuju ke lokasi ke dua air terjun ini cukup sulit dimana harus
melewati jalan setapak dan menuruni lembah yang dalam. Hanya ke lokasi
Grojoran Watu Jonggol saja yang mudah di akses karena sudah dibuatkan
jalan setapak.
Perjalanan dari Yogjakarta dengan mgambil arah ke barat melalui jalan Godean hingga tiba di perempatan setelah kali Progo. Dari perempatan ini (Nanggulan) ambil ke arah utara kira-kira 6 km hingga sampai di perempatan Dekso. Di perempatan ini ambil ke kiri (ke arah barat) ikuti jalan tersebut kira-kira 15 km hingga tiba di terminal kecil atau pasar Plono. Dari terminal ini ambil belokan ke kanan ke arah desa Nglinggo. Ikuti jalan tersebut sekitar 3 km hingga dijumpai papan peta wisata Nglinggo. Selanjutnya akan dijumapi pertigaan lalu belok kiri masuk jalan kampung berbatu hingga tiba di depan papan Grojogan Watu Jonggol. Dari sini turun ke jalan setapak yang cukup curuam dan licin kira-kira sejauh 100 m hingga tiba di lokasi grojogan berada.
Perjalanan dari Yogjakarta dengan mgambil arah ke barat melalui jalan Godean hingga tiba di perempatan setelah kali Progo. Dari perempatan ini (Nanggulan) ambil ke arah utara kira-kira 6 km hingga sampai di perempatan Dekso. Di perempatan ini ambil ke kiri (ke arah barat) ikuti jalan tersebut kira-kira 15 km hingga tiba di terminal kecil atau pasar Plono. Dari terminal ini ambil belokan ke kanan ke arah desa Nglinggo. Ikuti jalan tersebut sekitar 3 km hingga dijumpai papan peta wisata Nglinggo. Selanjutnya akan dijumapi pertigaan lalu belok kiri masuk jalan kampung berbatu hingga tiba di depan papan Grojogan Watu Jonggol. Dari sini turun ke jalan setapak yang cukup curuam dan licin kira-kira sejauh 100 m hingga tiba di lokasi grojogan berada.
Air Terjun Sidoharjo Kulon Progo
Air terjun ini berada di Desa Sidoharjo, Kecamatan. Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 5 km dari Pasar Dekso. MTs Sidoharjo belok ke kiri dan melewati jalan yang menanjak, dan selanjutnya harus melawati jalan setapak di pinggir sawah dan hutan. Sambil berjalan anda bisa menikmati pemandangan yang indah disepanjang jalan diiringi oleh kicauan burung.

Curug ini merupakan obyek wisata yang berupa air terjun dengan ketinggian 75 meter. Disini jika kita beruntung disamping melihat air terjun anda juga akan menemui kera ekor panjang yang bergelantungan di tebing-tebing. Air terjun ini belum mempunyai nama, Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai curug saja. Menariknya, curug ini seakan belum terjamah manusia sehingga masih cukup alami keadaannya. Tambah elok dengan hamparan bunga di sekitarnya, Obyek wisata ini Terletak di Pedukuhan Gonolangu.

Curug ini merupakan obyek wisata yang berupa air terjun dengan ketinggian 75 meter. Disini jika kita beruntung disamping melihat air terjun anda juga akan menemui kera ekor panjang yang bergelantungan di tebing-tebing. Air terjun ini belum mempunyai nama, Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai curug saja. Menariknya, curug ini seakan belum terjamah manusia sehingga masih cukup alami keadaannya. Tambah elok dengan hamparan bunga di sekitarnya, Obyek wisata ini Terletak di Pedukuhan Gonolangu.
PARIS van JAVA
Namanya Pantai Parangtritis, letaknya disebelah selatan kota Yogyakarta tepatnya di desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul kurang lebih 27 km dari pusat kota Yogyakarta. Nama desa parangtritis konon bermula dari satu kejadian pada masa Kerajaan Majapahit, diceritakan bahwa seseorang bernama Dipokusumo bertapa dikawasan ini, ketika sedang bertapa ditempat ini ia melihat air yang menetes (tumaritis) dari celah-celah batu karang (Parang) sehingga nama daerah tersebut dinamai Parangtritis yang berarti air yang menetes dari celah batu karang.
Pantai parangtritis sendiri selain merupakan tempat rekreasi juga dikenal sebagai tempat Ziarah, ini dikarenakan orang jawa sangat memepercayai bahwa pantai tersebut merupakan tempat Kerajaan tempat dimana Nyai Roro Kidul berkuasa. Dan juga sebagai garis imajiner dengan Keraton Yogyakarta serta Gunung Merapi. Dan pada saat tertentu di Komplek Pantai ini diadakan acara labuhan dari pihak Keraton Yogyakarta.
Ditempat ini bagi para wisatawan yang ingin menikmati suasana malam di sekitar pantai ini banyak sekali penginapan-penginapan, bahkan ada satu hotel dengan taraf international yakni Queen of the South Hotel. Adapula disewakan ATV untuk menaklukan gundukan gundukan pasir(Gumuk) dengan tariff sewa bervariasi antara Rp. 50.000 s/d Rp. 100.000 setiap 30 menit. Bagi yang ingin menikmati sepanjang pantai tapi capek berjalan disediakan pula dokar/bendi yang ditarik kuda dengan tariff sewa Rp. 20.000 sekali putaran bolak-balik. Untuk yang ingin bersantap disepanjang pantai ini juga banyak sekali didirikan Warung makan dengan berbagai jenis makanan dan minuman, sering juga ada penjual keliling yang menawarkan masakan hasil laut antara lain peyek jingking (semacam kepiting tapi kecil-kecil yang digoreng pakai tepung).
Pantai ini tergolong pantai yang paling ramai dan paling sering dikunjungi setiap kali berkunjung ke Yogyakarta. Pantai ini ini merupakan pantai yang landai, sehingga deburan ombaknya sangat nyaman dinikmati namun demikian berhati-hatilah sudah banyak korban yang terseret ombak karena tidak mengindahkan peringatan-peringatan oleh petugas setempat.
Untuk menuju ke Parangtritis sendiri sangat banyak jenis angkutan umum yang tersedia, dan tiket masuk bolehlah dikatakan sangat murah hanya sebesar Rp. 3000,- ditambah asuransi Rp. 250,-. Untuk retribusi kendaraan sepeda motor Rp. 500,- , mobil Rp. 1000,- dan bus pariwisata Rp. 2000,-.
Kunjungi dan nikmati keindahan yang disuguhkan Pantai ini.
Sabtu, 17 Desember 2011
Pantai Glagah Indah
Sebuah dataran pantai yang lapang akan segera menyapa jika berkunjung ke Pantai Glagah. Kelapangan dataran pantai ini memberi anda kesempatan untuk merentangkan pandangan ke seluruh penjuru. Merentang pandangan ke depan, anda bisa melihat garis horizon maha panjang yang mempertemukan langit dan lautan. Sementara keindahan kelokan garis pantai akan memanjakan mata bila mengalihkan pandangan ke barat atau timur.
Dataran pantai yang lapang dan garis pantai yang panjang juga memberikan anda sejumlah lokasi alternatif untuk melihat keindahan pemandangan pantai. Masing-masing lokasi seolah memiliki nuansa yang berbeda walau masih terletak dalam satu kawasan. Di setiap lokasi itu, anda bisa menikmati seluruh keindahan pantai dengan leluasa, sama sekali tak ada karang-karang raksasa yang kadang menghalangi pandangan mata.
Lokasi pertama yang sangat tepat untuk melihat pemandangan pantai adalah sebuah lokasi yang akan dijadikan pelabuhan beberapa tahun ke depan. Anda bisa menjumpainya bila telah sampai di belokan pertama dari pos retribusi, tandanya adalah sebuah plang bertuliskan PP. Pertemuan aliran sungai dengan ombak lautan yang penuh harmoni bisa disaksikan dengan menaiki sebuah gardu pandang yang terdapat di sana.
Sepanjang lokasi pertama hingga beberapa ratus meter ke arah barat, anda bisa menjumpai sebuah laguna dengan aliran air yang menuju ke arah muara sungai. Laguna ini membagi kawasan pantai menjadi dua, lokasi yang masih ditumbuhi oleh beberapa tumbuhan pantai dan rerumputan dan lokasi gundukan pasir yang langsung berbatasan dengan lautan. Anda bisa menyeberang ke lokasi gundukan pasir melewati jalan penghubung yang terletak tak jauh dari muara sungai.Berjalan lebih ke barat, anda bisa menyaksikan aktivitas warga sekitar dan beberapa wisatawan memancing ikan. Saat YogYES berkunjung, mereka tampak berdiri dan berbaris, berderet mengikuti garis pantai sambil memegang peralatan memancingnya. Daerah pantai yang cukup landai memberi anugerah ikan dalam jumlah yang cukup besar. Sejumlah kios yang menjajakan sea food juga terdapat, menyajikan beragam menu yang pantas untuk dicoba.
Selain pemandangan pantai yang indah, Pantai Glagah juga memiliki beragam fasilitas wisata pantai. Salah satu adalah area motor cross yang terletak persis di pinggir pantai dengan luas yang cukup besar, memberi kepuasan bagi anda penggemar olahraga ini. Sementara itu, jalan beraspal yang menghubungkan pantai Glagah dengan pantai-pantai lain bisa dimanfaatkan sebagai arena olah raga sepeda pantai.
Anda bahkan bisa menikmati fasilitas agrowisata pantai dengan mengunjungi perkebunan Kusumo Wanadri. Di sana, anda bisa mengamati proses budidaya beragam tanaman obat mujarab, seperti buah naga dan bunga roselle. Selain itu, anda juga bisa menyewa gethek, kano dan bebek dayung yang bisa digunakan untuk tur menyusuri laguna atau sekedar menyeberang lewat jembatan kayu menuju lokasi gundukan pasir di tepi pantai.
Lelah berkeliling, anda bisa beristirahat di gubug lesehan dalam kawasan areal perkebunan Kusumo Wanadri. Sejumlah menu makanan dan minuman eksotik pantas untuk dicoba. Anda bisa mencicipi jus buah naga yang menyegarkan dan dikenal mampu menyembuhkan beragam penyakit, atau memesan es sirup bunga roselle yang mampu melepas dahaga sekaligus menetralisir beragam jenis racun dalam tubuh.
Untuk menikmati keseluruhan keindahan pemandangan pantai Glagah, anda bisa melaju melintasi dua alternatif jalan. Pertama, berjalan ke selatan melewati jalan Bantul dan berbelok ke kanan menuju jalur Bantul - Purworejo setelah sampai di Palbapang. Kedua, berjalan ke barat melewati lintasan jalan Yogyakarta - Wates - Purworejo dan berbelok ke kiri setelah menjumpai plang menuju Pantai Glagah. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi untuk lebih mudah mengaksesnya.
Perjalanan ke pantai ini tak sesulit perjalanan menuju pantai di wilayah Gunung Kidul. Jalan-jalan yang dilalui cenderung datar dan tak banyak tanjakan sehingga anda bisa menempuhnya sambil bersantai. Lintasan menuju kota Purworejo itu juga menghubungkan Pantai Glagah dengan pantai-pantai lain di Kabupaten Kulon Progo. Jadi, sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, anda bisa mengunjungi pantai-pantai lain setelahnya.
Jumat, 16 Desember 2011
Puncak Suroloyo (Mitos Negeri Kahyangan, dan Negeri Di Atas Awan)
Bagi para penggemar cerita wayang, Puncak Suroloyo bukanlah tempat yang asing. Kawasan tertinggi dari jajaran perbukitan Menoreh ini terletak di perbatasan DIY dan Jawa Tengah, tepatnya di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, yang berjarak 48 km dari koya Yogyakarta. Dari tempat ini akan terlihat empat gunung besar di Pulau Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Ketebalan kabut putih itu tampak seperti ombak yang menenggelamkan daratan hingga yang tersisa hanya sawah yang membentuk susunan tapak siring dan pepohonan yang terletak di dataran yang lebih tinggi. Dari balik kabut putih itu pula, stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut.
Selain memiliki pemandangan yang mengagumkan, Puncak Suroloyo juga menyimpan mitos. Puncak ini diyakini sebagai kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa. Dengan mitos, sejarah beserta pemandangan alamnya, tentu tempat ini sangat tepat untuk dikunjungi pada hari pertama di tahun baru kalender Jawa (1 Suro). Puncak Suroloyo memiliki kaitan sejarah dengan Kerajaan Mataram Islam. Dalam Kitab Cabolek yang ditulis Ngabehi Yasadipura pada sekitar abad ke-18 menyebutkan, suatu hari Sultan Agung Hanyokrokusumo yang kala itu masih bernama Mas Rangsang mendapat wangsit agar berjalan dari Keraton Kotagede kearah barat. Petunjuk itupun diikuti hingga dia sampai di puncak Suroloyo ini. Karena sudah menempuhjarak sekitar 40 km, Mas Rangsang merasa lelah dan tertidur di tempat ini. Pada saat itulah, Rangsang kembali menerima wangsit agar membangun tapa di tempat dia berhenti. Ini dilakukan sebagai syarat agar dia bisa menjadi penguasa yang adil dan bijaksana.
Mitos Puncak Suroloyo
Setidaknya ada 4 (empat) hal yang selalu menjadi pertanyaan sekaligus jawaban : ada apa dengan Puncak Suroloyo ? Keempat hal tersebut berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat lampau dan juga yang sekarang :
1. Dalam lakon pewayangan yang sampai sekarang kita tonton, hampir semua nama tempat yang disebutkan itu sampai sekarang masih ada dan dijadikan nama tempat itu. Tempat-tempat itu adalah :
· Puncak Suroloyo adalah tempat Batara Guru
· Repat Kepanasan (Tegal Kepanasan) yaitu tempat rapatnya para dewa. Dan tempat itu memang ada sampai sekarang.
· Sariloyo, yaitu tempat para dewa menyimpulkan hasil rapat. Tempatnya tinggi kira-kira 200 meter dari repat kepanasan.
· Kaendran adalah tempat pertapaan para ksatria dalam cerita pewayangan.
· Pertapaan Mintorogo dalam cerita pewayangan, dan tempat itu sekarang juga masih ada.
· Sendang Kawidodaren, yaitu tempat para ksatria mandi dan mensucikan diri setelah melakukan pertapaan. Dan tempat itu juga masih ada sekarang.
2. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tempat-tempat di kawasan Puncak Suroloyo ini telah menginspirasi para pencipta cerita-cerita pewayangan pada ratusan abad lalu. Dan jika benar Kanjeng Sunan Kali Jaga sebagai pencipta cerita-cerita wayang sebagai media dakwah, berarti beliau telah mengenal atau kemungkinan pernah menetap di tempat ini.
3. Di salah satu rumah sesepuh dusun Keceme ada tersimpan 2 (dua) pusaka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yaitu : Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Manggolo Dewo. Pertanyaannya adalah : mengapa Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada waktu masih hidup menitipkan kedua pusaka itu di kawasan Puncak Suroloyo ? Mengapa tidak di tempat lain. Apa makna tempat ini bagi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dulu dan sampai hari ini ?
4. Pada setiap tgl. 1 Suro pada kalender Jawa, ribuan orang datang berkinjung ke kawasan Puncak Suroloyo ini untuk mengikuti upacara “suroan”. Para pengunjung itu berasal dari berbagai wilayah di pulau Jawa dan luar pulau Jawa. Dan tentunya juga banyak diantara mereka yang datang itu berpengetahuan dan berpengalaman dan mungkin para pejabat, guru, dosen, atau para intelektual. Pertanyaannya adalah : ada apa dengan kawasan ini sehingga mereka berduyun-duyun datang dengan menaiki perbukitan yang tentunya lumayan jauh juga..?
Dari berbagai hal di atas, maka perlu kiranya digali lebih jauh tentang keberadaan kawasan Puncak Suroloyo ini. Hal ini mengingat masih sedikit sekali bahan bacaan yang berkenaan dengan hal ini. Dan lebih miris lagi adalah ketika suatu hari penulis ke sekolah SD yang ada di wilayah ini dan menanyakan buku-buku cerita tentang Suroloyo di perpustakaan sekolah tersebut tidak ada. Dan banyak diantara murid Sd di situ yang tak mengenal lagi riwayat dan cerita tentang Puncak Suroloyo ini. Demikianlah Suroloyo…**
goa kiskendo
Goa Kiskendo adalah goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk. Goa ini terletak sekitar 35 km arah barat laut Yogyakarta di atas bukit utara Kabupaten Kulon Progo yang dapat diakses memalui jalan kecil beraspal. Hanya kendaraan beroda empat berukuran kecil saja yang dapat sampai ke gua ini. Bagi Anda yang datang dengan bis besar harus berhenti di desa Niten, dekat kantor kecamatan Giri Mulyo, sekitar 8 km dari gua.
Tidak jauh dari mulut goa Kiskendo terdapat Goa Sumitro yang mempunyai dua mulut vertikal dan horizontal yang mengalir sungai bawah tanah yang jernih. Objek wisata ini sangat cocok untuk kegiatan perkemahan karena didukung dengan adanya lahan yang luas dengan udara yang nyaman. Goa Kiskendo yang terletak di desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulya, dapat dicapai dari yogyakarta dengan jarak kurang lebih 38 km atau kurang dari 21 km dari kota wates. Sepanjang Goa Kiskendo dapat menikmati pemandangan alam pegunungan yang mempesona. Memasuki gua Kiskendo, pengunjung akan disambut oleh keindahan stalaktit dan stalagmit seperti gua batu kapur pada umumnya. Menurut legenda dahulu gua tersebut merupakan istana 2 raksasa bernama Maesosuro dan Lembusuro yang dikalahkan oleh Subali seperti yang dilukiskan pada relief di depan gua.
SEJARAH
Taman wisata ini terletak 35 kilometer di sebelah Barat kota Yogyakarta, di pegunungan Menboreh. Taman Wisata ini terdiri dari Goa Kiskendo, Goa Sumitro dan Watu Blencong . Merupakan goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk, Goa Kiskenda adalah sebuah goa besar yang didalamnya berbentuk seperti istana. Goa Kiskenda merupakan tempat tinggal Maesasura dan Lembusura, dua makluk kakak beradik, berbadan manusia berkepala binatang yang memiliki kesaktian luar biasa. Rakyat Goa Kiskenda merupakan beraneka macam hewan ganas. Maesasura dan Lembusura memimpin kerajaan itu dengan sewenang-wenang. Kesaktian yang mereka miliki sangat luar biasa dahsyat.
Suatu saat mereka datang ke Kahyangan mengajukan keinginannya untuk memperistri Dewi Tara putri sang Bathara Indra. Sikap biadab itu menimbulkan kemarahan dewata. Para dewa serta merta menolak mentah-mentah lamaran tersebut. Dua saudara itu tidak bisa menerima penolakan itu. Mereka lalu mengamuk ke Kahyangan. Ribuan tentara biantang dikerahkan untuk menyerang kahyangan. Karena kesaktian keduanya sangat dahsyat,
tak satupun para dewa yang dapat mengalahkan Maesasura dan Lembusura.
Dalam keadaan demikian, Bathara Guru mencari cara untuk menumpas wadyabala Goa Kiskenda. Hanya ada satu cara yaitu dengan menggunakan kesaktian kadewatan yang maha dahsyat utnuk mengalahkan mereka. Kesaktian itu bernama aji Pancasona. Namun yang dapat menerimanya harus dia yang berhati luhur dan seorang suci yang mampu mengendalikan segala nafsunya sehingga kesaktian maha dahsyat itu tidak digunakan sewenang-wenang.
Para dewa sepakat untuk menyerahkan kesaktian itu ke Subali putra Resi Gotama yang sedang bertapa di Suryapringga. Bertahun-tahun mereka bertapa mematikan seluruh raga dan memusatkan seluruh pancaran jiwa mereka kepada Sang Pencipta. Tujuan mereka hanya satu memohon ampun kepada dewata atas segala perbuatan yang telah mereka lakukan. Suasana hening menjadi semarak saat Bathara Guru ditemani oleh Bathara Narada dan para dewa turun ke marcapada menemui mereka. Subali dan Sugriwa segera dibangunkan dari pertapaannya. Dan berkatalah sang raja dewa bahwa permohonan mereka akan dikabulkan dengan syarat mereka harus menumpas terlebih dahulu angkara murka yang kini bersemayam di tubuh Maesasura dan Lembusura. Subali dan Sugriwa bersedia. Dan sebelum mereka berangkat secara khusus, Bathara Guru menganugerahkan aji Pancasona kepada Subali dengan harapan Subali dapat menggunakannya demi perdamaian di alam ini.
Dengan kesungguhan hati, Subali dan Sugriwa berangkat ke Goa Kiskenda. Di mulut gua, Subali berpesan pada adiknya untuk waspada dan siap berjaga-jaga. Apabila keluar cairan darah berwarna merah, maka dapat dipastikan bahwa seluruh musuh telah sirna dari muka bumi ini. Namun apabila terjadi genangan darah putih mengalir keluar gua, maka Sugriwa harus segera menutup pintu gua. Setelah Sugriwa menyanggupi, Subali
langsung masuk kedalam melabrak Maesasura dan Lembusura.
Pertempuran antara makhluk-makhluk sakti itu tidak dapat dielakkan. Dinding gua seakan runtuh menahan gempuran kesaktian dari kedua belah pihak. Dan hanya berkat kesaktian Subali yang memiliki ajian Pancasona, Maesasura dan Lembusura dapat dibinasakan. Kepala keduanya diadu sehingga pecah berantakan. Otak dari Maesasura dan Lembusura hancur berantakan sehingga meleleh keluar gua. Dari luar gua, Sugriwa menantidengan harap cemas. Dan betapa hancur hati Sugriwa ketika mengetahui bahwa cairan yang mengalir berwarna merah dan putih. Ini berarti Subali mati bersama musuh-musuhnya. Dengan panik Sugriwa mengerahkan seluruh tenaganya dan menghancurkan pintu gua sehingga pintu gua kiskenda tertutup. Dengan kepedihan hati, Sugriwa segera melaporkan hal ini ke kahyangan.
Keadaan menjadi gembira tatkala para dewata mengetahui kabar matinya Maesasura dan Lembusura. Namun keadaan itu berubah menjadi duka saat mengetahui Subali juga mati dalam pertempuran itu. Sugriwa yang telah melaporkan itu kemudian dianugerahi hadiah untuk mempersunting Dewi Tara. Tak lama setelah perkawinan itu Subali tiba-tiba muncul di tengah-tengah keramaian. Subali mengamuk dan menganggap Sugriwa telah mengkhianati dirinya. Sugriwa yang terkejut belum sempat mejelaskan apa-apa sudah langsung dihajar oleh Subali. Kesaktian Subali yang berada jauh diatas Sugriwa membuat Sugriwa semakin tidak berdaya. Bathara Guru datang melerai dan panjang lebar menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Mendengar hal itu Subali menyesal dan dengan pilu meminta maaf pada adiknya. Cinta Sugriwa yang besar kepada kakaknya itu membuatnya menerima semua yang telah terjadi. Akhirnya Subali yang sudah berdharma sebagai brahmana, menyerahkan goa Kiskenda dan Dewi Tara kepada Sugriwa. Sugriwa kemudian membangun kerajaan kera yang diberi nama Pancawati, sementara Subali melanjutkan tapa bratanya.
Versi lain Kisah Gua Kiskenda yang saya dengar, menjelang ajalnya Subali bermaksud memberikan aji pancasona ke Sugriwa. Namun karena kecurigaan dan ketidakpercayaannya Sugriwa tidak mau mendekat kepada Subali meskipun kondisinya sudah sekarat. Pada cerita itu, Subali digambarkan masih mempunyai sifat licik. Singkat cerita akhirnya Aji Pancasona jatuh ke tangan Raja Alengka Rahwana raja.
Gua Kiskenda adalah salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Kendal. Gua Kiskenda terletak di Dusun Guwo Desa Trayu Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Berjarak sekitar 27 KM dari kota Kendal, ibukota kabupaten. Dan 40 KM dari pusat kota Semarang. Ornamen stalagtit dan stalagnit di dalam gua menggambarkan kisah Maesa Suro-Lembu Suro hingga runtuhnya kerajaan Gua Kiskendo
TIPS & TRIK
Selama perjalanan menuju gua, nikmatilah pemandangan indah diantara lembah, tanah pertanian yang hijau, dan rumah-rumah tradisional pedesaan sederhana yang sayang untuk tidak diabadikan
Tidak jauh dari mulut goa Kiskendo terdapat Goa Sumitro yang mempunyai dua mulut vertikal dan horizontal yang mengalir sungai bawah tanah yang jernih. Objek wisata ini sangat cocok untuk kegiatan perkemahan karena didukung dengan adanya lahan yang luas dengan udara yang nyaman. Goa Kiskendo yang terletak di desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulya, dapat dicapai dari yogyakarta dengan jarak kurang lebih 38 km atau kurang dari 21 km dari kota wates. Sepanjang Goa Kiskendo dapat menikmati pemandangan alam pegunungan yang mempesona. Memasuki gua Kiskendo, pengunjung akan disambut oleh keindahan stalaktit dan stalagmit seperti gua batu kapur pada umumnya. Menurut legenda dahulu gua tersebut merupakan istana 2 raksasa bernama Maesosuro dan Lembusuro yang dikalahkan oleh Subali seperti yang dilukiskan pada relief di depan gua.
SEJARAH
Taman wisata ini terletak 35 kilometer di sebelah Barat kota Yogyakarta, di pegunungan Menboreh. Taman Wisata ini terdiri dari Goa Kiskendo, Goa Sumitro dan Watu Blencong . Merupakan goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk, Goa Kiskenda adalah sebuah goa besar yang didalamnya berbentuk seperti istana. Goa Kiskenda merupakan tempat tinggal Maesasura dan Lembusura, dua makluk kakak beradik, berbadan manusia berkepala binatang yang memiliki kesaktian luar biasa. Rakyat Goa Kiskenda merupakan beraneka macam hewan ganas. Maesasura dan Lembusura memimpin kerajaan itu dengan sewenang-wenang. Kesaktian yang mereka miliki sangat luar biasa dahsyat.
Suatu saat mereka datang ke Kahyangan mengajukan keinginannya untuk memperistri Dewi Tara putri sang Bathara Indra. Sikap biadab itu menimbulkan kemarahan dewata. Para dewa serta merta menolak mentah-mentah lamaran tersebut. Dua saudara itu tidak bisa menerima penolakan itu. Mereka lalu mengamuk ke Kahyangan. Ribuan tentara biantang dikerahkan untuk menyerang kahyangan. Karena kesaktian keduanya sangat dahsyat,
tak satupun para dewa yang dapat mengalahkan Maesasura dan Lembusura.
Dalam keadaan demikian, Bathara Guru mencari cara untuk menumpas wadyabala Goa Kiskenda. Hanya ada satu cara yaitu dengan menggunakan kesaktian kadewatan yang maha dahsyat utnuk mengalahkan mereka. Kesaktian itu bernama aji Pancasona. Namun yang dapat menerimanya harus dia yang berhati luhur dan seorang suci yang mampu mengendalikan segala nafsunya sehingga kesaktian maha dahsyat itu tidak digunakan sewenang-wenang.
Para dewa sepakat untuk menyerahkan kesaktian itu ke Subali putra Resi Gotama yang sedang bertapa di Suryapringga. Bertahun-tahun mereka bertapa mematikan seluruh raga dan memusatkan seluruh pancaran jiwa mereka kepada Sang Pencipta. Tujuan mereka hanya satu memohon ampun kepada dewata atas segala perbuatan yang telah mereka lakukan. Suasana hening menjadi semarak saat Bathara Guru ditemani oleh Bathara Narada dan para dewa turun ke marcapada menemui mereka. Subali dan Sugriwa segera dibangunkan dari pertapaannya. Dan berkatalah sang raja dewa bahwa permohonan mereka akan dikabulkan dengan syarat mereka harus menumpas terlebih dahulu angkara murka yang kini bersemayam di tubuh Maesasura dan Lembusura. Subali dan Sugriwa bersedia. Dan sebelum mereka berangkat secara khusus, Bathara Guru menganugerahkan aji Pancasona kepada Subali dengan harapan Subali dapat menggunakannya demi perdamaian di alam ini.
Dengan kesungguhan hati, Subali dan Sugriwa berangkat ke Goa Kiskenda. Di mulut gua, Subali berpesan pada adiknya untuk waspada dan siap berjaga-jaga. Apabila keluar cairan darah berwarna merah, maka dapat dipastikan bahwa seluruh musuh telah sirna dari muka bumi ini. Namun apabila terjadi genangan darah putih mengalir keluar gua, maka Sugriwa harus segera menutup pintu gua. Setelah Sugriwa menyanggupi, Subali
langsung masuk kedalam melabrak Maesasura dan Lembusura.
Pertempuran antara makhluk-makhluk sakti itu tidak dapat dielakkan. Dinding gua seakan runtuh menahan gempuran kesaktian dari kedua belah pihak. Dan hanya berkat kesaktian Subali yang memiliki ajian Pancasona, Maesasura dan Lembusura dapat dibinasakan. Kepala keduanya diadu sehingga pecah berantakan. Otak dari Maesasura dan Lembusura hancur berantakan sehingga meleleh keluar gua. Dari luar gua, Sugriwa menantidengan harap cemas. Dan betapa hancur hati Sugriwa ketika mengetahui bahwa cairan yang mengalir berwarna merah dan putih. Ini berarti Subali mati bersama musuh-musuhnya. Dengan panik Sugriwa mengerahkan seluruh tenaganya dan menghancurkan pintu gua sehingga pintu gua kiskenda tertutup. Dengan kepedihan hati, Sugriwa segera melaporkan hal ini ke kahyangan.
Keadaan menjadi gembira tatkala para dewata mengetahui kabar matinya Maesasura dan Lembusura. Namun keadaan itu berubah menjadi duka saat mengetahui Subali juga mati dalam pertempuran itu. Sugriwa yang telah melaporkan itu kemudian dianugerahi hadiah untuk mempersunting Dewi Tara. Tak lama setelah perkawinan itu Subali tiba-tiba muncul di tengah-tengah keramaian. Subali mengamuk dan menganggap Sugriwa telah mengkhianati dirinya. Sugriwa yang terkejut belum sempat mejelaskan apa-apa sudah langsung dihajar oleh Subali. Kesaktian Subali yang berada jauh diatas Sugriwa membuat Sugriwa semakin tidak berdaya. Bathara Guru datang melerai dan panjang lebar menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Mendengar hal itu Subali menyesal dan dengan pilu meminta maaf pada adiknya. Cinta Sugriwa yang besar kepada kakaknya itu membuatnya menerima semua yang telah terjadi. Akhirnya Subali yang sudah berdharma sebagai brahmana, menyerahkan goa Kiskenda dan Dewi Tara kepada Sugriwa. Sugriwa kemudian membangun kerajaan kera yang diberi nama Pancawati, sementara Subali melanjutkan tapa bratanya.
Versi lain Kisah Gua Kiskenda yang saya dengar, menjelang ajalnya Subali bermaksud memberikan aji pancasona ke Sugriwa. Namun karena kecurigaan dan ketidakpercayaannya Sugriwa tidak mau mendekat kepada Subali meskipun kondisinya sudah sekarat. Pada cerita itu, Subali digambarkan masih mempunyai sifat licik. Singkat cerita akhirnya Aji Pancasona jatuh ke tangan Raja Alengka Rahwana raja.
Gua Kiskenda adalah salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Kendal. Gua Kiskenda terletak di Dusun Guwo Desa Trayu Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Berjarak sekitar 27 KM dari kota Kendal, ibukota kabupaten. Dan 40 KM dari pusat kota Semarang. Ornamen stalagtit dan stalagnit di dalam gua menggambarkan kisah Maesa Suro-Lembu Suro hingga runtuhnya kerajaan Gua Kiskendo
TIPS & TRIK
Selama perjalanan menuju gua, nikmatilah pemandangan indah diantara lembah, tanah pertanian yang hijau, dan rumah-rumah tradisional pedesaan sederhana yang sayang untuk tidak diabadikan
Waduk Sermo
Proyek pembangunan Waduk Sermo merupakan salah satu komponen program IISP (Integreted Irrigation Sector Project) yang pembiayaannya berasal dari APBN murni dan bantuan ADB. Studi kelayakan Waduk Sermo dilakukan oleh Mac Donald tahun 1980, dilanjutkan oleh PT Indra Karya tahun 1985 dan 1991. Penelitian untuk mengetahui waduk sermo layak dibangun dari segi teknis dan ekonomis dilakukan oleh ELC – Electroconsult pada tahun 1992. Waduk Sermo ini dibuat dengan membendung Kali Ngrancah yang dapat menampung air 25 juta meter kubik. Pembangunannya diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan (1 Maret 1994 hingga Oktober 1996). Waduk Sermo ini diresmikan pada tanggal 20 November 1996 oleh Presiden Soeharto dan akhirnya resmi beroperasi pada tahun 1997. Pembangunan waduk sermo ini membuat Pemda Kulonprogo harus memindahkan 107 KK dengan bertransmigrasi ke Tak Toi Bengkulu, dan ke PIR kelapa sawit Riau.
Tujuan pembangunan waduk ini adalah untuk suplesi sistem irigasi daerah Kalibawang yang memiliki cakupan areal seluas 7.152 Ha. Sistem irigasi tersebut merupakan interkoneksi dari beberapa daerah irigasi, diantaranya Clereng, Pengasih, dan Pekik Jamal.
Pembangunan Waduk Sermo diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian melalui perluasan areal, effisiensi air irigasi dan peningkatan intensitas tanam, sehingga diharapkan dapat memperbaiki pendapatan petani dan meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan kesempatan kerja di daerah tersebut.
Waduk Sermo merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Kulonprogo, provinsi DIY. Waduk Sermo mempunyai sumber daya alam yang amat potensial seperti kawasan wisata, dan saat ini dapat digunakan sebagai tempat pariwisata untuk umum. Waduk Sermo, selain menjadi tempat orang untuk berplesiran, juga menjadi sarana orang-orang yang mempunyai hobi memancing. Masyarakat sekitar Waduk Sermo juga ada yang memanfaatkan waduk ini untuk membangun keramba. Malah ada yang menggunakan keramba tersebut untuk dijadikan rumah apung untuk beristirahat dan makan bersama. Waduk Sermo yang pada mulanya secara hanya untuk diupayakan agar dipelihara sebaik-baiknya bakal jadi salah satu objek yang bisa diunggulkan di Yogyakarta. Sayang, waduk yang dibuat pada tahun 1993 tersebut hanyalah satu-satunya waduk yang ada di DIY.
Tujuan pembangunan waduk ini adalah untuk suplesi sistem irigasi daerah Kalibawang yang memiliki cakupan areal seluas 7.152 Ha. Sistem irigasi tersebut merupakan interkoneksi dari beberapa daerah irigasi, diantaranya Clereng, Pengasih, dan Pekik Jamal.
Pembangunan Waduk Sermo diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian melalui perluasan areal, effisiensi air irigasi dan peningkatan intensitas tanam, sehingga diharapkan dapat memperbaiki pendapatan petani dan meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan kesempatan kerja di daerah tersebut.
Waduk Sermo merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Kulonprogo, provinsi DIY. Waduk Sermo mempunyai sumber daya alam yang amat potensial seperti kawasan wisata, dan saat ini dapat digunakan sebagai tempat pariwisata untuk umum. Waduk Sermo, selain menjadi tempat orang untuk berplesiran, juga menjadi sarana orang-orang yang mempunyai hobi memancing. Masyarakat sekitar Waduk Sermo juga ada yang memanfaatkan waduk ini untuk membangun keramba. Malah ada yang menggunakan keramba tersebut untuk dijadikan rumah apung untuk beristirahat dan makan bersama. Waduk Sermo yang pada mulanya secara hanya untuk diupayakan agar dipelihara sebaik-baiknya bakal jadi salah satu objek yang bisa diunggulkan di Yogyakarta. Sayang, waduk yang dibuat pada tahun 1993 tersebut hanyalah satu-satunya waduk yang ada di DIY.
Langganan:
Postingan (Atom)







